Search This Blog

Tuesday, November 19, 2013

Sepulang dari Amerika!

Kulirik jam di pojok laptop TOSHIBA hitamku, hemmm waktu telah menunjukkan pukul 12.48; berarti sudah 2 jam aku duduk menyendiri di dalam kedai kopi dan donat modern ini, Mokko Factory. Bukan duduk biasa, tetapi duduk sambil memelototi angka angka yang akan aku ajukan ke tempat kerjaku. Aku bukan sedang bekerja untuk kedai kopi ini lho.... Aku adalah part time worker. Artinya? Pekerja yang tidak memiliki jam kerja dan kantor tetap. Bisa bekerja dimana saja dan kapan saja sesukaku.

Hari ini, karena temen membatalkan janji makan siang, aku memutuskan untuk membuat laporan keuangan untuk misi jalan jalan selama satu bulan penuh. Kok jalan-jalan di bayar sih? Aku saja yang menyebutnya begitu karena selama bertugas aku bepergian dari satu kota ke kota lain, naek turun pesawat, keluar masuk hotel dan taxi. Enak to? Karena enaknya itu aku sebut "jalan-jalan".

Pada titik ini, aku sangat menyukai apa yang aku lakukan, walaupun pekerjaan itu sifatnya part-time. Tetapi, kadang susah juga kalau ada orang atau tetangga bertanya "kerjanya apa mbk?" atau "mbak kok di rumah terus ya?" Mau menjawab "oh, aku kerja dengan lembaga ini, untuk melakukan ini, disini, blablabla..." Pasti akan panjang penjelasannya. Jadi, daripada aku bercerita banyak, apalagi yang bertanya juga nggak ngeh dengan apa yang aku kerjakan, aku bilang saja begini "aku kerja paroh waktu untuk LSM. Pekerjaannya seperti konsultan."

Aku juga tidak tahu persis statusku saat ini sebagai apa. Hanya, di kartu nama, aku beranikan diri menyebut sebagai konsultan independen. Saat ini, aku bekerja sebagai eksternal monitor untuk sebuah project yang didanai oleh Canadian Embassy. Hihihi, bagian dari mimpi yang terwujud. Kerja dengan bule, di kedutaan asing. Walaupun part-time, semoga pekerjaan itu menjadi pintu masuk ke dunia yang aku impi-impikan, "bekerja sambil keliling dunia!"

Tahun lalu, aku sempat sangat khawatir. Waktu itu, aku berada di semester akhir kuliah S2 ku di Amerika. Tahu sendiri kan bagaimana orang memandang lulusan dari luar negeri, apalagi Amerika? orang tua, saudara, tetangga, teman, semuanya memiliki ekspektasi yang sangat tinggi terhadapku. Bayangan mereka, setelah aku pulang, pasti sudah ada lembaga yang akan datang menawariku pekerjaan dengan gaji dan posisi yg wah. Ayahku saja sudah sangat yakin bahwa aku akan menjadi Pegawai Negeri, status yang sangat keren bagi beliau dan juga orang-orang di kampungku.

Waduh, padahal sebagai aktivis sosial yang bekerja di LSM, aku adalah pengangguran. Karena, begitu menerima beasiswa untuk belajar, bosku di LSM langsung memutuskan kontrak kerja. Hanya dengan ucapan, beliau berjanji untuk menampungku sekembali dari Amerika. Aku tidak mau bergantung kepada janji itu, apalagi lidah tidak bertulang kan?

So, dua bulan sebelum pulang for good, aku diliputi kecemasan: Bagaiamna kalau aku tidak langsung dapat kerja? bagaimana aku menafkahi orang tua kalau tidak ada penghasilan? bagaimana aku harus menghadapi orang-orang? Jadi, aku banyak sekali berdoa, menghubungi teman teman, dan mengirim surat lamaran. Dari puluhan dan ratusan lamaran, hanya satu lamaran yang mendapatkan jawaban, lamaran untuk Kedutaan Kanada. Alhamdulillah, akhirnya sebuah harapan itu muncul juga.

Begitu kembali ke Indonesia, satu bulan penuh saya habiskan untuk mengunjungi orang tua, kakak, bibi, paman, dan keluarga lainnya. Rasanya 1 bulan itu tidak cukup. Ketika mengunjungi bude, ada 2 panggilan wawancara yang masuk ke dalam inbox-ku. Dua-duanya dari lembaga internasional. Alhamdulillah. Semoga salah satu sukses!

Ketika itu, doaku hanya satu "semoga aku mendapatkan pekerjaan yang mengizinkan aku untuk kembali ke kampung halaman, berjuang membuat perubahan disana" Eh, rupanya Allah mengabulkannya. Wawancara untuk pekerjaan full-time ku ternyata tidak sukses. Aku diterima di pekerjaan yang satunya, menjadi part-time external monitor.

Sekarang, waktunya aku membayar hutangku, melaksanakan janjiku untuk pulang kampung, membuat perubahan disana. Semoga Allah senantiasa meridloi usahaku, amiiin.

No comments:

Post a Comment