Search This Blog

Wednesday, November 20, 2013

A hope and A dream

A hope, sebuah harapan, setidaknya untukku. Harapan untuk membuat sebuah perubahan di kampung halaman. Harapan yang nantinya akan mewujudkan impian, dream. Sekali lagi, setidaknya bagiku.

Tumbuh besar di sebuah kampung kecil, terpencil di tengah laut Jawa, membuatku terbiasa dengan kehidupan alami: nyeker kemana-mana, jalan kaki kemana-mana, menghabiskan waktu di sungai, sawah, hutan, dan lahan lahan kosong tetangga untuk bermain dengan anak kecil lainnya. Semuanya adalah hiburan, semuanya adalah tempat bermain.

Satu saja yang paling malas aku lakukan: mandi! jangan bayangkan mandi di sebuah kamar mandi yang ada di dalam rumah. Kamar mandi kami adalah Jeddhing atau songai, pemandian umum bagi orang-orang di kampungku. Songai berlokasi sekitar 300 meter dari perkampungan. Berada diperbatasan dusun kami dengan dusun tetangga. Persis di samping jalan desa. Tempatnya lumayan luas, seperti kamar besar. Tepat ditengah ruangan ada kolam air yang di kelilingi teras. Untuk mandi atau nyuci, kami biasanya duduk jongkok di teras itu dan mengambil air di kolam dengan menggunakan gayung kecil.

Yang membuatku malas, karena songai berada di lokasi yang sangat sepi, di kaki sebuah bukit kecil, aku yang penakut, selalu merinding setiap kali kesana. Kadang takut hantu, kadang khawatir kalau kalau ada yg mengintip. Alasan kedua, pagi dan sore hari -anggaplah seperti jalan di kota yang selalu padat di jam-jam berangkat dan pulang kerja- Songai selalu ramai. Harus antri untuk mendapatkan tempat untuk mandi. Juga, mandinya harus cepat karena banyak yang sedang nungguin.    

Sekarang, cerita itu sudah menjadi sejarah. Kampungku berhasil membawa air ke kampung. Berkat perjuangan bahu membahu seluruh warga selama 4 tahun. Uang, tenaga, material, semuanya hasil urunan masyarakat.

Keberhasilan itu, memecut semangatku untuk berani berharap. Kali ini yang menjadi mimpi adalah menghidupkan kembali budaya mencintai ilmu di kampungku.

Setelah Pak Dailimi, sang Maha Guru dan sang pejuang sejati, meninggal dunia, prestasi akademik anak anak di kampungku menurun drastis. Dulu, ketika beliau masih ada, lulusan sekolah dasar dari kampungku selalu menempati rangking 5 besar di sekolah lanjutan. Sekarang, jangankan menjadi juara, adik-adik malah tenggelam di sekolahnya masing-masing.

Sebagai generasi yang merasakan limpahan perhatian dari Pak Guru Dailimi, saya kok merasa terpanggil untuk memberikan perhatian yang sama kepada adik-adik ya? Mungkin jalan yang akan aku lalui berliku, menanjak, dan berduri. Tetapi, itu jalan sama yang dilalui Pak Guru. Beliau bisa dan saya pasti bisa. Apalagi, sekarang aku memiliki pengalaman dan jaringan. Pasti bisa dan berhasil.

Nah, ini dia rencanaku. Pertama, membujuk orang tua, saudara, dan tetangga untuk mendukung niatku. Kalau perlu, menodong sodara untuk memberikan sumbangan, heheheh..Kemudian, mendekati seluruh stakeholders agar mau bergabung. Harus pintar pintar membujuk nih, atau setidaknya mampu membakar kesadaran dan semangat mereka. Nah, yang ketiga, menggunakan metode-metode dalam mengidentifikasi aset dan merencanakan tindak lanjut sesuai dengan aset yang ada. Inilah praktek dari pendekatan ABCD, Asset-based community development...hemmmmm

No comments:

Post a Comment