International development agencies put Gender Equality as a cornerstone of development. As a subject and object of the development, I will discuss this issue at the level of a household: It is not from the perspective of empowering women, providing them an equal access to education, health, and economic opportunity. It is from my own experience, dealing with my husband attitude.
As a worker and a wife, I have to do domestic chores before or after working with my office tasks. Many times, the domestic works make my energy run out. My husband, a worker too, sometime gives a little help. As both of us play two roles, I really expect that we give an equal effort to accomplish the domestic works.
This is just an example. If I am busy with cooking work, I want him to help me clean the house with an agreed standard particularly with the level of cleanliness. Yet, he insists with his own standard. As he does not perform well, then we made a division of labor. Later, he did not do the job as expected. Finally, I took the charge. A wife does most of the domestic chores again.
My question with the case is "why is it hard for a men to have a high commitment to the domestic chores at the same level of women?" As a wife, I feel responsible of making the house clean as living in a clean home will give a comfort feeling to a family member; of providing the family with enough food to eat as it will strengthen the family bond. The members will feel secured and find easy to stay at home. Unfortunately, I cannot find such feeling of responsibility from my husband.
In my case, in addition to the commitment, perceived standard is also matters. When my husband perceives that helping in garbage cleaning is a sufficient help, in my opinion, it is not enough. This draws me a conclusion that the foundation of the equality in a household is a perception/attitude. When my husband sees that his help is adequate while I don't, the equality in the household works would not occur.
Gender equality at the household level is constructed by wife and husband. While I don't enjoy equality in the domestic works, I enjoy equality in education and in economic opportunity. At these points, I am lucky to have a husband with the opinion that women can have high education and carrier. That allows me to pursue my master degree and to work comfortably. Although I have to leave home for a long time, he is ok.
Now, what kind of equality is pursued by a women? People always said that gender equality is rights entitled to human-being, but women is still struggling in getting the rights. The next question is "from whom the women is asking for the rights? from government, social, family, husband?
At the core level, I believe that gender equality is defined by family. So, if you are searching for equality, you should change the perception of your family. Then, you can intervene social system including your government to make you have your rights.
Lastly, my effort for having an equality in household chores may fail, so i am planning to just hire a house assistance and make my husband pay her salary, hihiihihi.
Search This Blog
Wednesday, November 20, 2013
A hope and A dream
A hope, sebuah harapan, setidaknya untukku. Harapan untuk membuat sebuah perubahan di kampung halaman. Harapan yang nantinya akan mewujudkan impian, dream. Sekali lagi, setidaknya bagiku.
Tumbuh besar di sebuah kampung kecil, terpencil di tengah laut Jawa, membuatku terbiasa dengan kehidupan alami: nyeker kemana-mana, jalan kaki kemana-mana, menghabiskan waktu di sungai, sawah, hutan, dan lahan lahan kosong tetangga untuk bermain dengan anak kecil lainnya. Semuanya adalah hiburan, semuanya adalah tempat bermain.
Satu saja yang paling malas aku lakukan: mandi! jangan bayangkan mandi di sebuah kamar mandi yang ada di dalam rumah. Kamar mandi kami adalah Jeddhing atau songai, pemandian umum bagi orang-orang di kampungku. Songai berlokasi sekitar 300 meter dari perkampungan. Berada diperbatasan dusun kami dengan dusun tetangga. Persis di samping jalan desa. Tempatnya lumayan luas, seperti kamar besar. Tepat ditengah ruangan ada kolam air yang di kelilingi teras. Untuk mandi atau nyuci, kami biasanya duduk jongkok di teras itu dan mengambil air di kolam dengan menggunakan gayung kecil.
Yang membuatku malas, karena songai berada di lokasi yang sangat sepi, di kaki sebuah bukit kecil, aku yang penakut, selalu merinding setiap kali kesana. Kadang takut hantu, kadang khawatir kalau kalau ada yg mengintip. Alasan kedua, pagi dan sore hari -anggaplah seperti jalan di kota yang selalu padat di jam-jam berangkat dan pulang kerja- Songai selalu ramai. Harus antri untuk mendapatkan tempat untuk mandi. Juga, mandinya harus cepat karena banyak yang sedang nungguin.
Sekarang, cerita itu sudah menjadi sejarah. Kampungku berhasil membawa air ke kampung. Berkat perjuangan bahu membahu seluruh warga selama 4 tahun. Uang, tenaga, material, semuanya hasil urunan masyarakat.
Keberhasilan itu, memecut semangatku untuk berani berharap. Kali ini yang menjadi mimpi adalah menghidupkan kembali budaya mencintai ilmu di kampungku.
Setelah Pak Dailimi, sang Maha Guru dan sang pejuang sejati, meninggal dunia, prestasi akademik anak anak di kampungku menurun drastis. Dulu, ketika beliau masih ada, lulusan sekolah dasar dari kampungku selalu menempati rangking 5 besar di sekolah lanjutan. Sekarang, jangankan menjadi juara, adik-adik malah tenggelam di sekolahnya masing-masing.
Sebagai generasi yang merasakan limpahan perhatian dari Pak Guru Dailimi, saya kok merasa terpanggil untuk memberikan perhatian yang sama kepada adik-adik ya? Mungkin jalan yang akan aku lalui berliku, menanjak, dan berduri. Tetapi, itu jalan sama yang dilalui Pak Guru. Beliau bisa dan saya pasti bisa. Apalagi, sekarang aku memiliki pengalaman dan jaringan. Pasti bisa dan berhasil.
Nah, ini dia rencanaku. Pertama, membujuk orang tua, saudara, dan tetangga untuk mendukung niatku. Kalau perlu, menodong sodara untuk memberikan sumbangan, heheheh..Kemudian, mendekati seluruh stakeholders agar mau bergabung. Harus pintar pintar membujuk nih, atau setidaknya mampu membakar kesadaran dan semangat mereka. Nah, yang ketiga, menggunakan metode-metode dalam mengidentifikasi aset dan merencanakan tindak lanjut sesuai dengan aset yang ada. Inilah praktek dari pendekatan ABCD, Asset-based community development...hemmmmm
Tumbuh besar di sebuah kampung kecil, terpencil di tengah laut Jawa, membuatku terbiasa dengan kehidupan alami: nyeker kemana-mana, jalan kaki kemana-mana, menghabiskan waktu di sungai, sawah, hutan, dan lahan lahan kosong tetangga untuk bermain dengan anak kecil lainnya. Semuanya adalah hiburan, semuanya adalah tempat bermain.
Satu saja yang paling malas aku lakukan: mandi! jangan bayangkan mandi di sebuah kamar mandi yang ada di dalam rumah. Kamar mandi kami adalah Jeddhing atau songai, pemandian umum bagi orang-orang di kampungku. Songai berlokasi sekitar 300 meter dari perkampungan. Berada diperbatasan dusun kami dengan dusun tetangga. Persis di samping jalan desa. Tempatnya lumayan luas, seperti kamar besar. Tepat ditengah ruangan ada kolam air yang di kelilingi teras. Untuk mandi atau nyuci, kami biasanya duduk jongkok di teras itu dan mengambil air di kolam dengan menggunakan gayung kecil.
Yang membuatku malas, karena songai berada di lokasi yang sangat sepi, di kaki sebuah bukit kecil, aku yang penakut, selalu merinding setiap kali kesana. Kadang takut hantu, kadang khawatir kalau kalau ada yg mengintip. Alasan kedua, pagi dan sore hari -anggaplah seperti jalan di kota yang selalu padat di jam-jam berangkat dan pulang kerja- Songai selalu ramai. Harus antri untuk mendapatkan tempat untuk mandi. Juga, mandinya harus cepat karena banyak yang sedang nungguin.
Sekarang, cerita itu sudah menjadi sejarah. Kampungku berhasil membawa air ke kampung. Berkat perjuangan bahu membahu seluruh warga selama 4 tahun. Uang, tenaga, material, semuanya hasil urunan masyarakat.
Keberhasilan itu, memecut semangatku untuk berani berharap. Kali ini yang menjadi mimpi adalah menghidupkan kembali budaya mencintai ilmu di kampungku.
Setelah Pak Dailimi, sang Maha Guru dan sang pejuang sejati, meninggal dunia, prestasi akademik anak anak di kampungku menurun drastis. Dulu, ketika beliau masih ada, lulusan sekolah dasar dari kampungku selalu menempati rangking 5 besar di sekolah lanjutan. Sekarang, jangankan menjadi juara, adik-adik malah tenggelam di sekolahnya masing-masing.
Sebagai generasi yang merasakan limpahan perhatian dari Pak Guru Dailimi, saya kok merasa terpanggil untuk memberikan perhatian yang sama kepada adik-adik ya? Mungkin jalan yang akan aku lalui berliku, menanjak, dan berduri. Tetapi, itu jalan sama yang dilalui Pak Guru. Beliau bisa dan saya pasti bisa. Apalagi, sekarang aku memiliki pengalaman dan jaringan. Pasti bisa dan berhasil.
Nah, ini dia rencanaku. Pertama, membujuk orang tua, saudara, dan tetangga untuk mendukung niatku. Kalau perlu, menodong sodara untuk memberikan sumbangan, heheheh..Kemudian, mendekati seluruh stakeholders agar mau bergabung. Harus pintar pintar membujuk nih, atau setidaknya mampu membakar kesadaran dan semangat mereka. Nah, yang ketiga, menggunakan metode-metode dalam mengidentifikasi aset dan merencanakan tindak lanjut sesuai dengan aset yang ada. Inilah praktek dari pendekatan ABCD, Asset-based community development...hemmmmm
Tuesday, November 19, 2013
Sepulang dari Amerika!
Kulirik jam di pojok laptop TOSHIBA hitamku, hemmm waktu telah menunjukkan pukul 12.48; berarti sudah 2 jam aku duduk menyendiri di dalam kedai kopi dan donat modern ini, Mokko Factory. Bukan duduk biasa, tetapi duduk sambil memelototi angka angka yang akan aku ajukan ke tempat kerjaku. Aku bukan sedang bekerja untuk kedai kopi ini lho....
Aku adalah part time worker. Artinya? Pekerja yang tidak memiliki jam kerja dan kantor tetap. Bisa bekerja dimana saja dan kapan saja sesukaku.
Hari ini, karena temen membatalkan janji makan siang, aku memutuskan untuk membuat laporan keuangan untuk misi jalan jalan selama satu bulan penuh. Kok jalan-jalan di bayar sih? Aku saja yang menyebutnya begitu karena selama bertugas aku bepergian dari satu kota ke kota lain, naek turun pesawat, keluar masuk hotel dan taxi. Enak to? Karena enaknya itu aku sebut "jalan-jalan".
Pada titik ini, aku sangat menyukai apa yang aku lakukan, walaupun pekerjaan itu sifatnya part-time. Tetapi, kadang susah juga kalau ada orang atau tetangga bertanya "kerjanya apa mbk?" atau "mbak kok di rumah terus ya?" Mau menjawab "oh, aku kerja dengan lembaga ini, untuk melakukan ini, disini, blablabla..." Pasti akan panjang penjelasannya. Jadi, daripada aku bercerita banyak, apalagi yang bertanya juga nggak ngeh dengan apa yang aku kerjakan, aku bilang saja begini "aku kerja paroh waktu untuk LSM. Pekerjaannya seperti konsultan."
Aku juga tidak tahu persis statusku saat ini sebagai apa. Hanya, di kartu nama, aku beranikan diri menyebut sebagai konsultan independen. Saat ini, aku bekerja sebagai eksternal monitor untuk sebuah project yang didanai oleh Canadian Embassy. Hihihi, bagian dari mimpi yang terwujud. Kerja dengan bule, di kedutaan asing. Walaupun part-time, semoga pekerjaan itu menjadi pintu masuk ke dunia yang aku impi-impikan, "bekerja sambil keliling dunia!"
Tahun lalu, aku sempat sangat khawatir. Waktu itu, aku berada di semester akhir kuliah S2 ku di Amerika. Tahu sendiri kan bagaimana orang memandang lulusan dari luar negeri, apalagi Amerika? orang tua, saudara, tetangga, teman, semuanya memiliki ekspektasi yang sangat tinggi terhadapku. Bayangan mereka, setelah aku pulang, pasti sudah ada lembaga yang akan datang menawariku pekerjaan dengan gaji dan posisi yg wah. Ayahku saja sudah sangat yakin bahwa aku akan menjadi Pegawai Negeri, status yang sangat keren bagi beliau dan juga orang-orang di kampungku.
Waduh, padahal sebagai aktivis sosial yang bekerja di LSM, aku adalah pengangguran. Karena, begitu menerima beasiswa untuk belajar, bosku di LSM langsung memutuskan kontrak kerja. Hanya dengan ucapan, beliau berjanji untuk menampungku sekembali dari Amerika. Aku tidak mau bergantung kepada janji itu, apalagi lidah tidak bertulang kan?
So, dua bulan sebelum pulang for good, aku diliputi kecemasan: Bagaiamna kalau aku tidak langsung dapat kerja? bagaimana aku menafkahi orang tua kalau tidak ada penghasilan? bagaimana aku harus menghadapi orang-orang? Jadi, aku banyak sekali berdoa, menghubungi teman teman, dan mengirim surat lamaran. Dari puluhan dan ratusan lamaran, hanya satu lamaran yang mendapatkan jawaban, lamaran untuk Kedutaan Kanada. Alhamdulillah, akhirnya sebuah harapan itu muncul juga.
Begitu kembali ke Indonesia, satu bulan penuh saya habiskan untuk mengunjungi orang tua, kakak, bibi, paman, dan keluarga lainnya. Rasanya 1 bulan itu tidak cukup. Ketika mengunjungi bude, ada 2 panggilan wawancara yang masuk ke dalam inbox-ku. Dua-duanya dari lembaga internasional. Alhamdulillah. Semoga salah satu sukses!
Ketika itu, doaku hanya satu "semoga aku mendapatkan pekerjaan yang mengizinkan aku untuk kembali ke kampung halaman, berjuang membuat perubahan disana" Eh, rupanya Allah mengabulkannya. Wawancara untuk pekerjaan full-time ku ternyata tidak sukses. Aku diterima di pekerjaan yang satunya, menjadi part-time external monitor.
Sekarang, waktunya aku membayar hutangku, melaksanakan janjiku untuk pulang kampung, membuat perubahan disana. Semoga Allah senantiasa meridloi usahaku, amiiin.
Hari ini, karena temen membatalkan janji makan siang, aku memutuskan untuk membuat laporan keuangan untuk misi jalan jalan selama satu bulan penuh. Kok jalan-jalan di bayar sih? Aku saja yang menyebutnya begitu karena selama bertugas aku bepergian dari satu kota ke kota lain, naek turun pesawat, keluar masuk hotel dan taxi. Enak to? Karena enaknya itu aku sebut "jalan-jalan".
Pada titik ini, aku sangat menyukai apa yang aku lakukan, walaupun pekerjaan itu sifatnya part-time. Tetapi, kadang susah juga kalau ada orang atau tetangga bertanya "kerjanya apa mbk?" atau "mbak kok di rumah terus ya?" Mau menjawab "oh, aku kerja dengan lembaga ini, untuk melakukan ini, disini, blablabla..." Pasti akan panjang penjelasannya. Jadi, daripada aku bercerita banyak, apalagi yang bertanya juga nggak ngeh dengan apa yang aku kerjakan, aku bilang saja begini "aku kerja paroh waktu untuk LSM. Pekerjaannya seperti konsultan."
Aku juga tidak tahu persis statusku saat ini sebagai apa. Hanya, di kartu nama, aku beranikan diri menyebut sebagai konsultan independen. Saat ini, aku bekerja sebagai eksternal monitor untuk sebuah project yang didanai oleh Canadian Embassy. Hihihi, bagian dari mimpi yang terwujud. Kerja dengan bule, di kedutaan asing. Walaupun part-time, semoga pekerjaan itu menjadi pintu masuk ke dunia yang aku impi-impikan, "bekerja sambil keliling dunia!"
Tahun lalu, aku sempat sangat khawatir. Waktu itu, aku berada di semester akhir kuliah S2 ku di Amerika. Tahu sendiri kan bagaimana orang memandang lulusan dari luar negeri, apalagi Amerika? orang tua, saudara, tetangga, teman, semuanya memiliki ekspektasi yang sangat tinggi terhadapku. Bayangan mereka, setelah aku pulang, pasti sudah ada lembaga yang akan datang menawariku pekerjaan dengan gaji dan posisi yg wah. Ayahku saja sudah sangat yakin bahwa aku akan menjadi Pegawai Negeri, status yang sangat keren bagi beliau dan juga orang-orang di kampungku.
Waduh, padahal sebagai aktivis sosial yang bekerja di LSM, aku adalah pengangguran. Karena, begitu menerima beasiswa untuk belajar, bosku di LSM langsung memutuskan kontrak kerja. Hanya dengan ucapan, beliau berjanji untuk menampungku sekembali dari Amerika. Aku tidak mau bergantung kepada janji itu, apalagi lidah tidak bertulang kan?
So, dua bulan sebelum pulang for good, aku diliputi kecemasan: Bagaiamna kalau aku tidak langsung dapat kerja? bagaimana aku menafkahi orang tua kalau tidak ada penghasilan? bagaimana aku harus menghadapi orang-orang? Jadi, aku banyak sekali berdoa, menghubungi teman teman, dan mengirim surat lamaran. Dari puluhan dan ratusan lamaran, hanya satu lamaran yang mendapatkan jawaban, lamaran untuk Kedutaan Kanada. Alhamdulillah, akhirnya sebuah harapan itu muncul juga.
Begitu kembali ke Indonesia, satu bulan penuh saya habiskan untuk mengunjungi orang tua, kakak, bibi, paman, dan keluarga lainnya. Rasanya 1 bulan itu tidak cukup. Ketika mengunjungi bude, ada 2 panggilan wawancara yang masuk ke dalam inbox-ku. Dua-duanya dari lembaga internasional. Alhamdulillah. Semoga salah satu sukses!
Ketika itu, doaku hanya satu "semoga aku mendapatkan pekerjaan yang mengizinkan aku untuk kembali ke kampung halaman, berjuang membuat perubahan disana" Eh, rupanya Allah mengabulkannya. Wawancara untuk pekerjaan full-time ku ternyata tidak sukses. Aku diterima di pekerjaan yang satunya, menjadi part-time external monitor.
Sekarang, waktunya aku membayar hutangku, melaksanakan janjiku untuk pulang kampung, membuat perubahan disana. Semoga Allah senantiasa meridloi usahaku, amiiin.
Subscribe to:
Comments (Atom)