Search This Blog

Tuesday, January 14, 2014

Shinkansen dan Maglev: menghitung jarak tempuh dan kecepatan

Siang, di sebuah rumah kecil. Aku dan dua ponakan kecilku, Iza dan Alfi, duduk melingkar. Mereka sedang menagihku untuk menceritakan sebuah buku cerita yang baru saja aku beli. Buku tentang kereta api.

Buku itu sangat menarik. Gambarnya besar, berwarna, dan memajang beragam kereta api di dunia. Ceritanya diawali dengan penjelasan tentang kereta api, rel, gerbong, lokomotif, dan masinis. Ada kereta api super cepat, kereta api uap, dan kereta api listrik. Nah, ketika sampai pada penjelasan kereta api Shinkansen yang mencapai 270 Km/jam (kecapatannya sekarang mencapai hampir 320 km/jam) dan kereta api Maglev yang mencapai 430 Km/jam, spontan aku ingin melatih daya nalar ponakanku yang duduk di kelas 3 SD, Iza. Kan nggak asik kalau hanya baca buku saja, harus ada yang membuatnya berpikir.

Aku beri dia sebuah pertanyan, “antara Shinkansen dan Maglev, mana yang lebih cepat?” Dia baca lagi penjelasannya dan tampak berpikir.
“Shinkansen” jawabnya pasti.
“Kenapa?” tanyaku.
“270 Km/jam kan lebih cepat dari pada 430 Km/jam. Jawabnya dengan yakin.
“Baca lagi Za, dalam satu jam kereta Maglev bisa mencapai jarak 430, sedangkan Shinkansen hanya 270 Km, mana dong yang lebih cepat?” tanyaku kembali sambil berusaha menjelaskan bahwa Maglev lebih cepat dari Shinkansen”
“ 270 Km/jam lebih cepat nde” katanya tetap pada pendiriannya.

Aku diam. Duh, gimana menjelaskannya ya? Aku tahu logika dia. Tampaknya dia berpikir bahwa 270 itu lebih sedikit daripada 430, tentunya lebih cepat sampai daripada 430. Padahal kan logikanya tidak seperti itu.

Akhirnya, aku ajak Iza ke halaman. Aku minta dia berlari di jarak tiga meter. Aku hitung berapa detik yang dia habiskan untuk berlari di jarak tersebut. Ternyata dia membutuhkan waktu empat detik.
“Itu artinya, kecepatan Iza 3 m/4 detik” kataku padanya.
“Sekarang hitung empat detik, Onde akan berlari cepat” pintaku padanya.

Iza menghitung detik dengan cepat. Aku berlari sekuat tenaga, dan meluncur jauh melebihi garis finish Iza dalam 3 detik tersebut, tetapi  5 detik dalam hitungan Iza yang cepat.
“Detik tidak secepat itu za, detik itu begini nih: 1..2..3.. jelasku sambil menghitung dengan ritme detik.”
Aku ulangi lagi dan setelah mengulanginya 4 kali akhirnya dia berhasil menghitung dengan benar. Nafasku sampai ngos-ngosan. Ditambah, tetangga senyum-senyum melihatku berlari seperti anak kecil. Sedikit malu, tetapi tidak apa-apa untuk pembelajaran Iza.
“Nah, kecepatan onde 6 m/4 detik. Sekarang cepat mana Iza atau Onde?”
“Onde” jawabnya.
“Nah, itu sama dengan Shinkansen dan Maglev. Jadi Iza itu Shinkansen dan Onde adalah Maglev . Coba Iza jawab sekarang, cepat mana Shinkansen atau Maglev? “ tanyaku lagi
 “Maglev de” jawabnya.
“Tadi waktu berlari, iza lebih cepat sampainya daripada onde. Onde sampai garis finish setelah 5 detik. Jadi Iza itu maglev dan onde shinkansen” katanya nggak mau kalah.

Iza memang nggak mau kalah. Dia menjadi detik yang sangat cepat agar aku mencapai garis finsih dengan jumlah detik yang lebih banyak daripada dia. Artinya, aku lebih lambat daripada dia karena membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai jarak yang sama. Atau, dia mencapai jarak yang lebih jauh dengan waktu yang sama denganku.

Mudah-mudahan dengan permainan itu Iza memahami konsep jarak tempuh dan kecepatan. Susah memang untuk dijelaskan, tetapi sepertinya lebih mudah dpahami kalau dijelaskan melalui permainan. Biarkan dia sendiri yang mendefinisikannya setelah mengalami permainan jarak tempuh dan cepat ala Shinkansen dan Maglev.

No comments:

Post a Comment