Siang, di sebuah rumah kecil. Aku dan dua ponakan kecilku,
Iza dan Alfi, duduk melingkar. Mereka sedang menagihku untuk menceritakan sebuah
buku cerita yang baru saja aku beli. Buku tentang kereta api.
Buku itu sangat menarik. Gambarnya besar, berwarna, dan
memajang beragam kereta api di dunia. Ceritanya diawali dengan penjelasan
tentang kereta api, rel, gerbong, lokomotif, dan masinis. Ada kereta api super
cepat, kereta api uap, dan kereta api listrik. Nah, ketika sampai pada
penjelasan kereta api Shinkansen yang mencapai 270 Km/jam (kecapatannya
sekarang mencapai hampir 320 km/jam) dan kereta api Maglev yang mencapai 430
Km/jam, spontan aku ingin melatih daya nalar ponakanku yang duduk di kelas 3 SD,
Iza. Kan nggak asik kalau hanya baca buku saja, harus ada yang membuatnya
berpikir.
Aku beri dia sebuah pertanyan, “antara Shinkansen dan
Maglev, mana yang lebih cepat?” Dia baca lagi penjelasannya dan tampak
berpikir.
“Shinkansen”
jawabnya pasti.
“Kenapa?”
tanyaku.
“270 Km/jam
kan lebih cepat dari pada 430 Km/jam. Jawabnya dengan yakin.
“Baca lagi
Za, dalam satu jam kereta Maglev bisa mencapai jarak 430, sedangkan Shinkansen
hanya 270 Km, mana dong yang lebih cepat?” tanyaku kembali sambil berusaha
menjelaskan bahwa Maglev lebih cepat dari Shinkansen”
“ 270 Km/jam
lebih cepat nde” katanya tetap pada pendiriannya.
Aku diam. Duh, gimana menjelaskannya ya? Aku tahu logika
dia. Tampaknya dia berpikir bahwa 270 itu lebih sedikit daripada 430, tentunya
lebih cepat sampai daripada 430. Padahal kan logikanya tidak seperti itu.
Akhirnya, aku ajak Iza ke halaman. Aku minta dia berlari di
jarak tiga meter. Aku hitung berapa detik yang dia habiskan untuk berlari di jarak
tersebut. Ternyata dia membutuhkan waktu empat detik.
“Itu
artinya, kecepatan Iza 3 m/4 detik” kataku padanya.
“Sekarang hitung empat detik, Onde akan berlari cepat”
pintaku padanya.
Iza menghitung detik dengan cepat. Aku berlari sekuat
tenaga, dan meluncur jauh melebihi garis finish Iza dalam 3 detik tersebut,
tetapi 5 detik dalam hitungan Iza yang
cepat.
“Detik tidak secepat itu za, detik itu begini nih: 1..2..3..
jelasku sambil menghitung dengan ritme detik.”
Aku ulangi lagi dan setelah mengulanginya 4 kali akhirnya
dia berhasil menghitung dengan benar. Nafasku sampai ngos-ngosan. Ditambah, tetangga
senyum-senyum melihatku berlari seperti anak kecil. Sedikit malu, tetapi tidak
apa-apa untuk pembelajaran Iza.
“Nah,
kecepatan onde 6 m/4 detik. Sekarang cepat mana Iza atau Onde?”
“Onde” jawabnya.
“Nah, itu sama dengan Shinkansen dan Maglev. Jadi Iza itu
Shinkansen dan Onde adalah Maglev . Coba Iza jawab sekarang, cepat mana
Shinkansen atau Maglev? “ tanyaku lagi
“Maglev de” jawabnya.
“Tadi waktu berlari, iza lebih cepat sampainya daripada onde.
Onde sampai garis finish setelah 5 detik. Jadi Iza itu maglev dan onde
shinkansen” katanya nggak mau kalah.
Iza memang nggak mau kalah. Dia menjadi detik yang sangat
cepat agar aku mencapai garis finsih dengan jumlah detik yang lebih banyak
daripada dia. Artinya, aku lebih lambat daripada dia karena membutuhkan waktu
yang lebih lama untuk mencapai jarak yang sama. Atau, dia mencapai jarak yang
lebih jauh dengan waktu yang sama denganku.